Seringkali mulut kita tidak tahan untuk tidak berkomentar. Alhasil, dalam sejam saja sudah ratusan komentar kita ‘persembahkan’ untuk orang lain. Kita menghadiahi hati orang dengan ucapan – ucapan atas kelakuan yang dibuatnya, versi kita sediri.
Sementara disaat yang sama, karena sibuk mengurusi perilaku orang lain, kita jadi lupa dengan kelakuan diri sendiri.
Lihatlah diri kita sendiri yang mungkin kerap menyuruh anak kita tidak berbohong dan beberapa menit kemudian, menyuruh anak menerima tamu dengan mengatakan, “Bilangin, ayah sedang keluar kota!” Atau seseorang yang kerap meminta anaknya disiplin belajar, tapi tepat saat jam belajar sang anak, dia asyik menonton sinetron yang dibintangi artis pujaannya , dan itu dilakukan beberapa jengkal dari kamar anaknya.
Rasulullah Saw mengatakan, “innama bu’itstu liutammina makarima al-akhlaq (sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia)”.
Persoalan akhlaq adalah persoalan kebiasaan. Jika seseoarang terbiasa dengan lingkungan yang jelek, maka sedikit banyak akhlaqnya ikut menjadi jelek. Namun, yang paling yang paling utama adalah, bahwa akhlaq itu hasil kerja keras. Dalam sebuah pemoe disebutkan manuasia itu cendrung jahat, kikir dan sombong. Maka, jika ada manuasia yang dermawan, baik dan rendah hati, maka percayalah, itu adalah hasil dari latihan berat. Latihan yang melawan kodratnya yang buruk.
Mengapa seorang pemimpin sering dilecehkan? Atau mengapa seseorang sering hilang kepercayaan?itu terjadi biasanya karena orang tersebut kurang berbuat dan terlalu banyak berbicara. Mulut yang manis, indah penuh retorika tidak cukup, dan perlu dibuktikan dengan perilaku yang meyakinkan.
Teladan atau contoh adalah sebuah kunci bagi masyarakat yang sedang sakit. Ketika dinegeri ini digemborkan slogan hemat energi, kenyataannya gemborang itu jauh dibawah seruan untuk memberi peralatan kapasitas besar, termasuk kendaraan terbaru yang mahal.
Jadi mulai saat ini, hentikan mulut yang liar berbicara, tapi berikanlah contoh dan teladan yang mengugah.